[2016] di luar dari yang di luar

Oleh Taufik Darwis – Dramaturg

Pertunjukan “di luar dari yang di luar” berangkat dari kerja riset kami atas berbagai wacana yang tersebar melalui informasi dan dokumen/arsip di internet, serta wawancara pengalaman hidup para pendatang yang berdiam dan menghuni Yogjakarta. Kerja tersebut kami lakukan berdasarkan alasan posisi kami yang ‘bukan warga Yogya’ ketika merespon tema yang ditawarkan Festival Teater Jogja tahun ini, yaitu “Aku dan Lyan, Refleksi Jogja Masa Kini”.

Ketika pertama kali mendengar tema ini kami sangat sadar bahwa kami sedang berhadapan dengan segala bias representasi. Posisi itulah yang kami bawa dalam pertunjukan ini, yaitu sebagai sebuah warga salah satu kota yang bukan Jogja dalam memahami kenyataan, melakukan refleksi atas kehidupan sehari-hari orang lain di dalam sebuah kultur komunitas tertentu, dalam konteks ini yaitu membaca kualitas ruang Yogyakarta. Bagaimana sebuah kota memberikan setiap orang apa yang bisa dimilikinya secara privat (pribadi) dan apa yang bisa dimiliki secara bersama (politis). Bagaimana kota sebagai sebuah ruang mempengaruhi subjektifitas individu dan bagaimana kontestasi individu maupun kelompok ingin mempunyai pengaruh di dalam kultur kota.

Kami sengaja merubah habitat ruang Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta menjadi Teater Arena atau menjadi miniatur Plengkung Gading dengan memaksimal panggung dan meminimalisir kursi penonton proscenium. Pertunjukan ini berlangsung dalam logika beberapa kasus atau pengalaman hidup yang juga merupakan bagian dari fenomena sosial yang lebih besar. Dimana setiap orang mempunyai kemungkinan peran dalam ‘membentengi’ dan ‘membuka’ citra dari identitas sebuah kota yang tumbuh dari serangkaian pertanyaan mendasar seperti ini:

Kapan awal datang ke Jogja dan apa tujuannya? Bagaimana kesan awal anda ketika pertama kali ke Jogja? Apakah kesannya berbeda sekali dengan pandangan anda sebelum ke Jogja? Lalu apa yang menjadikan anda (sekian lama) menetap di Jogja? Apakah sempat berfikir meninggalkan Jogja, mengapa? Jika harus memilih, anda senang disebut apa, pendatang atau warga Jogja? Apa yang bisa membisa membuat anda meninggalkan Jogja?

Kami menyebut pertunjukan ini sebagai teater dokumenter atau teater verbatim. Sebuat genre teater yang keputusan-keputusan dramaturgisnya ada pada pertaruhan dalam memilih bagian-bagian yang terdapat dalam arsip/dokumen dan wawancara yang akan membangun konteks ruang dan waktu estetika pertunjukan. Aktor yang kami sebut di sini sebagai performer selain kami posisikan sebagai ‘peraga data’ juga bisa mengambil beberapa peran yang ditentukan oleh bagaimana kami sebagai yang ‘di luar’ membuat keputusan ketika berhadapan dengan bias representasi tadi. Pun begitu dengan cara kerja komposer dan skenografer.

Pertunjukan ini kami harap bisa menjadi ruang bagi kami dan penonton untuk mengidentifikasi pandangan poin-poin politik dalam pertunjukan, untuk mendesain ulang ruang hidup masing-masing. Culture is where we feel most at home.

Dramaturg
Taufik Darwis

Sutradara
Riyadhus Shalihin

Skenografer dan Desainer Cahaya
Puji Koswara

Supervisi Musik
Lawe Samagaha

Komposer
Romy Jaya Saputra

Performer
Ganda Swarna
Tazkia Hariny NF
Anis Herliani
John Heryanto
Hilmie Zein

Videografer
Immanuel Deporaz

Desainer
Mega A Noviandari

bandung performing arts forum
di festival teater jogja 2016
aku dan liyan: refleksi jogja masa kini
24 september 2016 | concert hall taman budaya yogyakarta
dok: panitia ftj2016 dan @imanuel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s