[2016] cut off: to see, to see your self, to be seen

Oleh Taufik Darwis – Dramaturg

Tubuh telah kehilangan rumah. Atau sebut saja dia terus saja berjalan, ada di dalam ruang dan waktu beragam. Berusaha mempunyai nilai tukar, terus bergerak melalui ruang budaya dan irama temporal. Tubuh mengkombinasi setiap tindakan ketika membawa identitas dan jejak yang menempel padanya. Menciptakan kebertubuhannya sendiri sesuai kondisi lingkungan dimana dia diciptakan dalam melihat, mendengar, berjalan, berdiri dan berisyarat.

Menemani proses pertunjukan Cut-Off, berarti harus mengambil posisi untuk menjadikan ekperimentasi sama pentingnya dengan hasil final. Terlibat dengan setiap sistem pada tubuh sutradara, aktor, penata gerak, penata musik, penata cahaya, penata visual dalam membuka kapasitasnya untuk berdialog dengan aspek spasial dan temporal pada setiap pengalaman suatu tema atau fenomena tak berumah yang ingin dibangkitkan oleh pertunjukan. Dan dalam kenyataannya, proses ini menjadikan kita harus kembali ke masa depan.

Ya! Mari kita kembali ke masa depan. Sebab segala sesuatunya adalah will have been. Visi pertunjukan dari puisi Afrizal tentang tukang becak yang diandaikan kembali kesenangan mendapatkan roti, susu dan gulden dibatalkan. ‘Kesaksian’ Pramoedya dan Denys Lombard dalam Jalan Raya Pos pun dibatalkan. Karena dalam setiap usaha (ingin) kembali selalu berkaitan dengan tekanan/represi, keadaan yang tidak berubah, mandeg. Piye Kabare! Wenak Jamanku Toh! Gambar Soeharto dengan senyum khasnya yang tersebar di t-shirt, sticker, pantat truk, angkot, meme di medsos menjadi cara yang paling baik bagi kita yang melulu mengandalkan kuasa yang lain dalam menentukan hidup kita. Ya,mantan memang bisa merusak semua usaha move on kita.

Serangkaian pembatalan visi dari susahnya move on itu menjadikan pertunjukan ini memproduksi subjek tubuh yang telah kehilangan rumah. Membentuk cara pandangnya sebagai yang terus berjalan tapi ingin menghadiran yang lalu. Pendekatan ini menuntut pemeriksaan ulang dari aspek spasial dan temporal yang terlibat (dalam) antar peristiwa. Tubuh yang kehilangan rumah menjadi pra-kondisi yang penting bagi terjadinya dialog untuk ide-ide yang datang ke permukaan. Tingkat pemilihannya adalah bagaimana ide tertentu tidak hanya membangkitkan pikiran konseptual tapi juga pengalaman yang tersimpan dalam tubuh, bahkan untuk pengalaman yang baru dilaluinya.

Aktor
John Heryanto
Ganda Swarna
Hilmie Zein

Koreografer
Tazkia Hariny

Komposer
Lawe Samagaha

Pemusik
Romy Jaya Saputra

Skenografer
Eko Sutrisno

Videografer
Vanny Rantini

Desain Cahaya
Puji Koswara

Dramaturg
Taufik Darwis

Sutradara
Riyadhus Shalihin

Desain dan Fotografer
Mega Noviandari

Produksi
Habib Koesnady

Manajer Produksi
Rahmah Fitriyani

Sabtu dan Minggu
4 & 5 Juni 2016

Ampitheater
Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
Jalan Bukit Pakar Timur No 100 Bandung

Kerjasama pertunjukan / rekan kerja ;
Selasar Sunaryo Art Space
Kopi Selasar

seluruh foto dalam album ini oleh Mega A. Noviandari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s