About

 

 

 

 

This slideshow requires JavaScript.

 

Bandung Performing Arts Forum-BPAF is a collective platform of interdisciplinary artists working on dramaturgy studies and producing performing arts. Formed on June 4, 2016 in Bandung with the vision of being a catalyst to create an ecosystem of ideas and practices of performing arts. At least in the first 5 years, BPAF focused on the issues of memory and space in the post-colonial and decolonial context, about personal and social; home and house; mobility and immobility; village and city; local and global. We also continue to open the space for the involvement of non-art practitioners (experts), to deepen and sharpen certain problems such as architects, product designers, archivists, planologists, geologists, etc, and of course, the common people, as a network of ideas.

 

Artists and collectives who have collaborated on BPAF projects/programs:
John Heryanto (actor/performance artist), Romy J. Saputra (music composer), Puji Koswara (lighting designer), Lawe Samagaha (music composer), Riyadhus Salihin (artistic director/curator/performance artist), Ganda Swarna (actor/performer//playwirght), Hilmi Zein (actor/performer), Tazkia Hariny (dancer/choreographer),  Anis Harliani (dancer/choreographer), Taufik Darwis (dramaturg/curator/producer/researcher), Imanuel Deporaz (film maker), Ensamble Tikoro (Metal Choir), Wail Irsyad (actor), Sugiyanti Ariani (Actor), Metal Mix Percussion (Metal Band), Annisa Laraswati (fashion designer), Agung Eko Sutrisno (Sculpture maker/performance artist), Hanny Bia Mexes (dancer/choreographer), Popo Puji (death metal vocalist). Tony Broer (performer/director), Suyadi (actor), Kemal Ferdiansyah (actor/theatre director), Gaus Firdaus (actor), Ad Akbar (actor), Teater Ghanta (Jakarta), Aliasnyah Caniago (performance artist), Leow Puat Tin (text curator/dramaturg/performer/researcher, Malasyia), Theatre Muibo, Tokyo.

Past projects:

1. CUT-OFF ( to see, to see yourself, to be seen)
Hibah Inovatif Yayasan Kelola 2016
4-5 Juni 2016, Ampitheatre Selasar Sunaryo Arts Space, Bandung.

2. DI LUAR DARI YANG DI LUAR
Festival Teater Jogjakarta VIII
24 september 2016m Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta ( TBY)

3. MALAM MINGGU METAL
Collaboration Project
20 Mei 2017, Spasial, Bandung

4. MEMBELI INGATAN
Teater Arsip/Performing the Archive
22-23 September 2017, Gedung Indonesia Menggugat, Bandung dan
27-28 September 2017, Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

5. PASAR TARI 2500/ DANCE MARKET 25K
25 Desember 2018 di Nuart Sculpture Park, Bandung.

6. Once Upon A Time (Chapther 1): The Fallen Boat
Collaboration project with Theatre Muibo (Tokyo)
13 Februari 2018, Nuart Sculpture Park, Bandung.

7. US/NOT US Project (2018-Now)
Work in Progress Show at Asian Dramaturg’s Networks Laboratory in Yogyakarya, September 2018

 

 

 Co-Founder & Associate Artists

 

Riyadhus Shalihin

riyaf

Lahir di Bandung, 1989. Lulusan Fakultas Seni Pertunjukan, program penyutradaraan – ISBI Bandung, Melanjutkan studi magister kuratorial seni (art curatorship) pada FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, Bandung. Extension Course Filsafat di Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung. Memiliki minat kajian/kekaryaan pada bidang seni rupa, seni pertunjukan, sinema. Bergiat sebagai dramaturg di B.P.A.F (Bandung Performing Arts Forum) dan kurator di KURR CLUB (Visual & Performance Art).

Terpilih mengikuti ‘Curators Academy’ di TheatreWorks dan Goethe Institute Singapore (2017), Residensi dramaturgi di Asean Design Theatre, Central Cultural Phillipine, Quezon City, Manila, (2012). Terpilih sebagai 1st Place pada Bazaar Art Video Competition, di Ritz Carlton Jakarta dengan karya: ‘Unidentified Origin Of The Lightless’, Peserta Lokakarya Penulisan dan Kuratorial Seni Rupa di Dewan Kesenian Jakarta Ruang Rupa 2016, Peserta Lokakarya Kurator ‘Moving Image’ di Jatiwangi Art Factory, 2017. Asisten Kurator pameran LINTAS MEDIA : ‘BODY-OUT’ – di Galeri Cipta III, TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta. Asisten Kurator Pameran ‘Derau Jawa’ Hanafi, 2016. Menyutradarai Hibah Seni yayasan kelola ; ‘CUT-OFF, to see, to see yourself, to be seen’ di Ampitheatre, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, dan pertunjukan ‘Di Luar Dari Yang Di Luar’ Taman Budaya Yogyakarta. Performance art ‘Musim Hujan Di Bandung/Rain Season In Bandung’, Undisclosed Territory 10, Studio Plesungan, Surakarta, ‘Surplus Exposure’ pada HAPPENING-NOW, oleh 69 Performance Club, di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, ‘Chvimera – After Boris Nieslony, After Jason Lim’, pada pameran SUPER-NATURAL di Gajah Gallery, Yogyakarta, mengikuti pameran GETOK TULAR 2#, di Omni Space – Bandung. Programmer Pameran performatif, Kraftwerk, Mediative Portraiture, Ali Robin Studio, Bandung. Menulis esai dan kritik seni rupa di Majalah Sarasvati.

Ganda Swarna

14907069_10202407597547817_1285826877675086133_n

Mendirikan Bandung Performing Art Forum pada 2016 hingga sekarang dan mengerjakan beberapa proyek pertunjukan bersama sebagai aktor diantaranya Cut Off  dan Diluar Dari Yang Di Luar di tahun 2016, kolaborator pada pertunjukan Malam Minggu Metal dan aktor di pertunjukan Membeli Ingatan pada tahun 2017. Penulis koran FTJ (Festival Teater Jakarta) 2015.

Mengikuti workshop Body Movement bersama Panama Picture dari Belanda (2016). Workshop Penyutradaraan Tubuh dan Kata, Toshiki Okada (Jepang), Art Summit Indonesia (2017). Workshop Penciptaan Bersama Teater ala Garasi, Jakarta (2018).

John Heryanto

16508773_10155771160487678_607668935345149541_n

John Heryanto, performer dan ikut mendirikan di b.p.a.f.  Sempat terlibat di beberapa pertunjukan Teater Payung Hitam, Laskar Panggung Bandung dan Teater Piktorial.  Berkolaborasi bersama Lary Red ( Fransisco), Residensi dan kolabolari lintas disiplin di Metro Art Brisbane dan Contemporary Art Centre of Crain di  Australia. Mengikuti BrisAsia Festival (2017). Workshop Penyutradaraan Tubuh dan Kata, Toshiki Okada, Art Summit Indonesia IV (2013). International Mask and Puppet Festival (2012 & 2014).
Residensi dan pendampingan warga  Kampung Pangkalan  di Festival Pangkalan dan Gunung Sunda
Festival 2017,  dan lain-lain.

Hilmi Zein

11899978_1028731427159308_7339414310290505176_n

Lahir  di Garut. Fokus dalam keaktoran, performance art, dan dongeng/story telling. Bergabung dan mendirikan Bandung performing Arst Forum – b.p.a.f, sekaligus menjadi performer di berbagai proyek, di antaranya: Cut Off  (2016) di Selasar Sunaryo art Space, di luar dari yang di luar (2016) di Taman Budaya Jogjakarta, dan Malam Minggu Metal (2017) di Spasial Art Space. Menjadi aktor di film indie di antaranya; Who Next (2017) dan Arka (2017).

Mengikuti berbagai workshop, diantaranya: Pengalaman studi Workshop Teater bersama Takashi (Jepang) Studio Teater ISBI Bandung (2014); Workshop Artistik Teater bersama Bang Oet dari UIN Bandung, Lab. Pemeranan ISBI Bandung (2014); Workshop Pemeranan oleh Heksa Ramdono, Lab. Pemeranan (2014); dan Workshop Performance Art bersama Seiji Shimoda , Studio teater ISBI Bandung (2017).

Anis Harliani Kencana Ekaputri

anis

Koreografer dan penari. Terlibat dalam proyek-proyek  pertunjukan b.p.a.f sejak 2016 dalam proyek di luar dari yang di luar. Terpilih dan mengikuti serangkaian lokakarya tari seperti: Body Movement Workshop with Panama Picture, Erasmuss Huiss; Lokakarya Tari/Koreografer Akademi Indonesian Dance Festival 2016  bersama Su Wen Chi (Taiwan), Suprapto Suryodarmo (Solo), Ramli Ibrahim (Malasyia) dan Benny Krisnawardy (Jakarta); Bandung Dance Collective Workshops 2018, Street Contemporary by Sharoon Bittner (Singapur) dan Floor Work by Eyi Lesar (Jakarta); Inspyro Moves Workshops 2018, Body Injection by Hari Ghulur (Surabaya) dan Body Dynamic by Shereden Newman (Australia).


Agung Eko Sutrisno

14568244_1272436749447351_2786230573810048800_n

Lahir di Cilacap, pada 23 Februari 1994. Kuliah Di Universitas Pasundan Bandung ,jurusan pendidikan sastra dan Bahasa Indonesia (2012-tidak tamat), Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan Seni Patung (2015-sekarang). Tergabung di KURR ClUB Colective Artist, yang konsen terhadap visual art dan performance art. Pengalaman studi, mengikuti workshop performance art bersama Melati Suryodarmo (Biennale Jakarta), workshop performance bersama Seiji Shimoda (ASBESTOS artspace), workshop performance bersama W Christiawan (ASBESTOS art space). Pameran tunggal : pie kabare wiji dalam sebuah kolase 2014, pameran bersama Culture of our art di Ruang Rupa Jakarta (2015), pameran bersama REMBLONG di Taman Budaya Bandung (2016),pameran bersama PLANAR di Omni space Bandung (2017), Residensi seniman : Micro Galleries Jakarta (2017), Desain sosial ekologis di Lab Tanya tanggerang (2018), performance art : Annual Jeprut bandung bersama Rahmat Jabaril, KURR CLUB “sedimentum” Bandung 2017, “Viva la kebon jeruk” dalam rangkaian REC performance, mencari saya dibalik sebuah bayangan di galeri Popo Iskandar (2018).

Romy Jaya Saputra

romi

Komponis, sound scaper dan pemusik. Lahir di Subang, Jawa Barat. Karya terbarunya REUP-EU yang bergagas dari fenomena “mitos” sleep paralyze yang memiliki pemaknaan kultural berbeda-beda di berbagai negara. Pemaknaan ini juga mempengaruhi paradigma atas tubuh dan roh, bangun dan tidur, atau hidup dan mati dalam hubungannya menjalani tegangan kehidupan sehari-hari.

Romy menjadi music and sound director dalam proyek pertunjukan b.p.a.f sejak 2016 dan di beberapa kelompok dan proyek seni pertunjukan lain, yaitu Teater Cassanova, Kumpulan Bunyi Sunya, JP Art dan Subang Nyeni. Juga berprofesi sebagai pengajar alat musik Barat dan Karawitan untuk privat dan beberapa sekolah di Bandung dan Subang.
Beberapa karya seni menjadi music and sound director dalam 3 tahun terakhir: Jatining (Tari, 2015); Mesu Budi (Tari, 2015); Maem Mendut: Woro Legi (Teater, 2015); The Love of Tiran (Tari, 2015); Nataning Igel (Tari, 2016); Blank (Teater, Lombok, 2016); Simponin Kematian dalam Dunia Mainan (Teater, Banding-Cirebon, 2016): Balukarna (Tari, 2016); Dewi legenda (Tari, 2017); Nyai Wiranggana (Teater, 2017); Biang Waruga Pati (Tari, 2017).


Rahmah Fitriyani

amay

Lahir di Bandung. Aktor dan manajer produksi pertunjukan. Terlibat dalam proyek  b.p.a.f sebagai manajer produksi , di antaranya; Cut Off (2016) dan Malam Minggu Metal (2017). Sebagai manager dan tim produksi di proyek/program lain: Festival Teater Remaja Se-Jawa Barat V (2016); Liaison Officer Festival Longser 6 (2017). Biografi Tomat dan Batu (Jalan Kecil-embrio b.p.af, 2015); Pertemuan dalam Lubang Jarum_ (Jalan Kecil-embrio b.p.af, 2015).

Terlibat sebagai aktor dalam beberapa pertunjukan, di antaranya: Universitas Orang-orang Mati (Teater Piktorial,  2014); Pada Suatu Hari karya Arifin C Noer (2015); D.O.T.O (2016); Tubuh-Tubuh Kejiwaan (Sutradara Rachman Sabur, 2017).

Taufik Darwis

12047007_10204527160289329_6492437722409096839_n

Taufik Darwis is a dramaturg and researcher based in Bandung, the capital city of West Java province, Indonesia. He is co-founder of the Bandung Performing Arts Forum. Since March 2016, he has been a co-curator of the Indonesian Dance Festival. In 2018, Taufik has been invited as a guest curator at the Teater Garasi / Garasi Performance Institute.
In 2016, Taufik attended the Art Summit Indonesia for Dramaturgy and New Dramaturgy Workshop  by Ugoran Prasad and Peter Eckersall. He was also involved in a dramaturgy forum organised by Teater Grasi in Yogyakarta, which runs presently under the name Dramaturgy Assembly. In 2018, Taufik attended The Curators Academy Theatre Works Singapore; TPAM, Performing Arts Meeting in Yokohama, and Symposium Asian Dramaturg’s Network.

With the Bandung Performing Arts Forum, Taufik worked as a dramaturg/director in the following productions: Cut Off: to See, See Oneself, to be Seen (2016), which reads the indigenous body as an artefact of colonialisation; di luar dari yang di luar (2016), a theatre project which reads the quality of living spaces of others in other cities through the perspective of migrants living in their new city; Malam Minggu Metal (2017), a collaborative performing arts project involving actors, choreographers, dancers, composers, and metal bands in reading the quality of life in Bandung from the standpoint of the metal community; and Membeli Ingatan (2017), a performance archive project based on dramaturgy resistance research on theatre in Bandung from 1997 to 2011. Taufik has also worked on Ari-Ari (2013), Maem Mendut (2014), To The Tit (2016), and Manusia Hotel No.00 (2017).

 

Advertisements